Jembatan Selat Sunda (session 1)

Beberapa waktu belakangan ini banyak media dan berita yang membahas tentang rencana realisasi pembangunan jembatan Selat Sunda yang juga merupakan program 100 hari Menteri Pekerjaan Umum kita. Walaupun itu hanya dalam bentuk studi kelayakan yang nantinya akan dibuat Peraturan Presiden, tetapi hal ini merupakan “satu langkah kecil” yang akan menentukan terealisasinya proyek yang pertama kali diusulkan oleh Prof. Sedyatmo 49 tahun silam itu. Setelah mencari-cari di internet, dari beberapa publikasi (yang jumlahnya sangat sedikit untuk proyek dengan skala besar seperti ini) yang saya peroleh, saya sangat tertarik dengan ulasan tentang Jembatan Selat Sunda dari blog bapak Wiryanto Dewobroto. Cara menyajikan suatu persoalan teknis yang rumit dengan bahasa yang cukup sederhana dan mudah dipahami oleh orang yang tidak terlalu ahli dalam bidang konstruksi jembatan seperti saya.

Setelah membaca tulisan Pak Wiryanto, ternyata ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam proses pembangunan jembatan Selat Sunda ini, a.l :

  1. Bentang tengah yang diusulkan Prof. Wiratman Wangsadinata (3500 m) dan berat deck yang dikurangi (Prinsip massa & kekakuan : semakin kecil massa bangunan dan semakin lentur suatu struktur maka gaya gempa yang diterima struktur tersebut akan semakin kecil…) rawan terhadap beban angin.
  2. Solusi masalah bentang diungkapkan Dr. Jodi Firmansyah dengan memperpendek jarak bentang (2500 m), tetapi terkendala dengan proses pemasangan pilar di laut dalam (kedalaman sekitar 100 meter).

Nah…omong-omong tentang laut apalagi yang dalam-dalam, kita kan sudah punya buanyak ahli yang kompeten dalam bidang ini. Apalagi saya lihat di milist Migas Indonesia belakangan ini ramai dengan topic inovasi laut dalam, dan kalau tidak salah akan diadakan event Oceanovolution 2009 di ITB dalam waktu dekat ini. Mudah-mudahan event-event ini dapat menghasilkan sesuatu terobosan baru dalam dunia teknologi laut dalam di Indonesia. Dan untuk mencapai itu tentunya dibutuhkan kerjasama antar institusi dan bidang-bidang yang berkaitan, sehingga comment Pak Robby Permata di blog Pak Wiryanto tentang sulitnya para ahli-ahli kita untuk bekerjasama tidak lagi terjadi.

Ok…back to our last topic, jika mencoba melihat permasalahan ini dari sudut pandang bidang yang saya tekuni (Ocean Engineering) ada beberapa pemikiran yang sekiranya dapat menjadi bahan pertimbangan untuk solusi permasalahan “pemancangan pilar di laut dalam”. Secara sederhana dapat saya gambarkan seperti ini : “mengapa kita selalu berpikir untuk memancang pilar-pilar tersebut ke dasar laut..?? mengapa tidak kita apungkan saja pilarnya ??. Pilar yang terapung juga akan merasakan efek gempa yang jauh lebih sedikit dibanding pilar yang terpancang, sebab fleksibilitas mooring line dan efek viskositas air laut dapat meredam efek langsung getaran gempa”. Saya akan mencoba menjelaskan sedikit lebih jauh tentang hal ini…(tetapi mungkin dalam beberapa edisi publikasi).

I. Konsep Cylinder Floating Column :

Dalam dunia offshore oil & gas exploration, konsep floating platform telah banyak mengalami perkembangan dalam beberapa dekade terakhir. Floating platform dibuat untuk menutupi kelemahan fungsi fixed platform yang tidak dapat digunakan untuk eksplorasi pada “deep sea” and “ultra deep sea” environment. Jenis floating platform ini ada beberapa macam al.: FPSO (ship shape), Tension Leg Platform (TLP), SPAR, Semisubmersible dan terakhir yang merupakan inovasi terbaru Arne Smedal dari DNV yaitu Sevan Stabilised Platform (SSP). Jenis platform yang terakhir inilah yang memungkinkan untuk “sedikit dimodifikasi” menjadi floating column untuk pilar-pilar jembatan di laut dalam. Berikut adalah gambar dan spesifikasi SSP yang diambil dari Sevan Marine Presentation.

II. Concept and Design

Seperti halnya analisa pada suatu floating platform, konsep floating column ini memerlukan criteria dan analisa khusus yang perlu dikaji secara lebih dalam. Untuk sementara saya membagi dalam 3 garis besar analisa permasalahan yaitu : Dimension & Configuration, Mooring system dan Material.

Masing-masing garis besar permasalahan diatas dibagi lagi ke dalam bidang-bidang analisa pembentuknya, sbb :

  1. Dimension & Configuration :
  • Pembebanan yang akan diterima oleh kolom, terutama beban aksial yang cukup besar, serta beban-beban lingkungan.
  • Optimasi motion & stability. Berhubungan dengan surge, sway, heave, roll, pitch, yaw yang diijinkan.
  1. Mooring System :
  • Konfigurasi dan jumlah mooring yang akan digunakan.
  • Mooring tension yang dihasilkan.
  • Jenis mooring yang dipakai (chain, wire, rod, atau kombinasi).
  • Jenis dan system “anchoring” yang akan digunakan.
  1. Material :
  • Concrete material,
  • Steel material,
  • Other.

Berikut ilustrasi “kasaran” konsep floating column.

Sekian dulu untuk “session 1”, mudah-mudahan detail analisa dan pembahasan lebih lanjut dapat saya release dalam waktu dekat. Salam.

refference :

“Jembatan Selat Sunda” , http://www.wiryanto.wordpress.com.

“Sevan Marine Presentation”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s