Jembatan Selat Sunda (session 2)

I. Dimension & Configuration :

Data assumption :

Beban aksial (estimate)     =          106 ton

ρ air laut                                  =          1,025 ton/m3

Berdasarkan data estimasi beban aksial yang akan diterima floating column, dapat kita tentukan besarnya volume displacement yang nantinya akan digunakan untuk menentukan dimensi floating column.

Vol. disp         =          W/ ρ air laut

=          106 ton / 1,025 ton/m3

=          975609,75 m3

Jika kita menginginkan sarat maksimum floating pontoon (T) adalah 50 meter, maka dapat ditentukan nominal diameter struktur, sbb :

diameter          =          2.(V.disp / 3,14.T)0,5

=          2.(975609,75 / 3,14.50)0,5

=          158 meter.

Selanjutnya adalah menentukan air gap floating column. Berdasarkan DNV OS C103 – Structural Design of Column Stabilised Units (LFRD Method), Sec.4 D100, ada beberapa criteria yang perlu dianalisa untuk menentukan air gap suatu floating structure al. :

  1. Wave and structure interaction effect,
  2. Wave asymmetry effects,
  3. Global rigid body motions (including dynamic effects),
  4. Effect of interacting system e.g. mooring and riser systems,
  5. Maximum and minimum draughts.

Wah..ternyata proses floating structure design ribet & berputar-putar ye…Gimana klo kita asumsikan (lagi2 asumsi..hehe) air gap awal sebesar  37,5 meter (0,75.T). Setelah principal dimension floating column telah diperoleh, selanjutnya dapat kita lakukan analisa seakeeping kondisi free floating untuk mengetahui RAO motion & wave drift pada kondisi ini. Hasil analisa ini akan digunakan untuk analisa mooring.

II. Analisa Free Floating :

Setelah diperoleh principal dimension struktur sbb :

kemudian kita modelkan dan analisa dengan software MOSES, untuk kondisi awal free floating. Environment condition yang dipakai adalah Hs gelombang 1,7 m dan wave direction 90 degree. Dari hasil running MOSES kita peroleh RAO struktur, motion statistics dan wave drift force sbb :

Dari data motion statistics diatas terlihat bahwa untuk gerakan set-down (heave) memiliki nilai maksimal single amplitude sebesar 0,077 m (environment condition 10 tahunan) dan 0,303 m (environment condition 100 tahunan). Untuk gerakan offset (surge) memiliki nilai single amplitude sebesar 0,076 m (environment condition 10 tahunan) dan 0,380 m (environment condition 100 tahunan). Sedangkan untuk gerakan rotasional (roll) memiliki nilai single amplitude sebesar 0,023 derajat (environment condition 10 tahunan) dan 0,122 derajat (environment condition 100 tahunan).

Setelah melakukan analisa free floating, selanjutnya kita lakukan analisa mooring. Pada tahap ini beberapa langkah-langkah penting harus dilakukan a.l: analisa konfigurasi arah dan jumlah penambatan, jenis mooring line dan tegangan yang terjadi pada mooring line. Untuk tahap ini kita bahas pada publikasi selanjutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s